Trotoar dan Hak Pejalan Kaki yang Terabaikan

Ahh, ini adalah isu lama yang makin mengemuka. Dan tidak bakal habis dibahas meski sudah minum 2 gelas kopi. Ya, ini adalah masalah hak pejalan kaki untuk mendapatkan trotoar yang layak untuk dilewati.

Teman-teman media dan blogger lain sudah menyuarakan hal ini sejak lama dan makin intens setelah ada kecelakaan yang melibatkan Neng Afri dengan 12 orang yang ditabraknya. Kecelakaan yang mengakibatkan 9 korban tewas itu terjadi di dekat Tugu Tani beberapa waktu lalu.

Urusan trotoar memang terbilang kompleks dan tidak menemukan inisiatif positif dari sang pemangku kepentingan sejak puluhan tahun lalu.

Kondisi trotoar di banyak jalan di Jakarta, khususnya, kebanyakan sangat sempit. Hanya memiliki lebar sekitar 1 meter saja. Di kondisi trotoar yang  sempit itu, para pejalan kaki alias pedestrian masih harus bergulat dengan kondisi trotoar itu sendiri yang tidak bisa dibilang bagus.

Sebab banyak sekali trotoar di Jakarta yang ‘lantainya’ hilang. Lalu banyak lubang penutup saluran air yang juga hilang. Ini tentu tidak bisa membuat pejalan kaki senang. Apalagi di trotoar yang sempit itu, pejalan kaki sering kali haru berbagi lahan dengan pohon yang terkadang posisinya ada di tengah trotoar.

Bila sudah menemukan kondisi tadi, kebanyakan pejalan kaki akan berpindah ke bahu jalan. Nah, ini selain tidak nyaman malah membahayakan keselamatan. Menurut saya, trotoar yang enak buat jalan kaki hanyalah di ruas jalan Thamrin-Soedirman. Selebihnya tidak nyaman buat jalan.

Selesaikah masalah dengan ‘kondisi alamiah’ tadi? Tentu saja belum! Sebab selain bergulat dengan kondisi infrastruktur yang tidak bagus itu, pejalan kaki juga harus berhadapan dengan lapak-lapak pedagang kaki lima yang biasa menggelar dagangannya di trotoar jalan.

Kata seorang pedagang ketika di wawancara Trans7 barusan sih dagang di trotoar lebih murah dibanding dengan sewa kios. Cukup bayar petugas untuk keamanan. Nah lho? Petugas? Ya, disini oknum banyak bermain.

Masalah pedestrian jalan ini makin semrawut ketika kita juga harus menghadapi para pengguna jalan yang tidak punya etika. Ya, tidak punya etika. Lha wong trotoar itu buat jalanan pejalan kaki, di Jakarta banyak motor yang lewat situ juga.

Malah terkadang pengguna motor itu ‘mengusir’ pejalan kaki untuk minggir dan memberi mereka jalan. Ini tentu keterlaluan.

Kalau kata teman-teman yang pakai motor sih itu mereka lakukan untuk menghindari macet. selain itu, kelakuan para pengguna mobil yang terkadang juga memaksa pemotor melakukan hal tersebut. Soalnya, terkadang pengendara mobil berjalan terlalu mepet ke bahu jalan sehingga tidak memberi kesempatan pengguna motor untuk lewat. Al hasil jalan pintas pun di cari.

Belum lagi urusan itu semua selesai, ada pula urusan  parkir liar yang juga melibatkan oknum petugas. Di kasus ini, trotoar untuk pejalan kaki dengan semena-mena digunakan untuk parkir kendaraan entah itu motor atau mobil. Pejalan kaki pun harus tabah menghadapinya.

Jadi, bisa dibilang masalah trotoar ini merupakan masalah kompleks yang melibatkan banyak pihak. Pertama pemerintah yang tidak bisa menyediakan infrastruktur yang memadai serta belum bisa mengatasi kemacetan yang makin menggurita di Jakarta serta mendidik oknum-oknumnya yang main mata. Kedua etika pemotor yang belum bisa dibilang bagus. Dan ketiga pengendara mobil yang sering kali berjalan terlalu mepet ke trotoar sehingga tidak memberi ruang untuk motor lewat di jalurnya.

Dan jadi, hal ini berhubungan dengan kita semua. Dan yang jadi pertanyaan, ketika sudah tahu masalah-masalah ini, dimanakah kita mau menempatkan posisi? Diposisi positif dengan menghargai pengguna jalan lain atau di posisi ‘termasuk dalam masalah’ dengan tidak menghargai pengguna jalan lain? Itu semua terserah Anda…

Mengenai korban dari ketidak-acuhan kita pada pejalan kaki. Tadi Trans7 juga kasih data. Di tahun 2011 ada 115 insiden yang melibatkan pejalan kaki dengan 11 orang tewas. Di Januari 2012 ada 7 orang luka-luka di Makasar, 1 orang tewas di Depok dan 12 orang pejalan kaki yang jadi korban tabrakan di Jakarta, 9 diantaranya tewas. Itu tuh, kasusnya si Neng Afri.

Dan catatan itu baru catatan yang tercatat ya. Belum lagi insiden-insiden yang tidak tercatat. Diperkirakan jumlah korban luka dan tewas lebih dari angka itu.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: