Mobil Nasional Mau Kemana?

Esemka

Esemka

Ahh, Euforia mobil nasional meski sudah meredup ternyata masih juga terasa. Tapi, sebenarnya bagaimanakah masa depan mobil nasional yang masih dalam rahim ini. Dan bagaimanakah porsi ambisi mobil nasional ini di roadmap industri otomotif Indonesia?

Euforia mobil nasional bisa dibilang meledak ketika Walikota Solo, Joko Widodo tiba-tiba hadir membawa mobil karya anak sekolah, Esemka menjadi mobil dinasnya. Sepengatahuan saya, Esemka bukanlah barang baru. Mobil purwarupa buatan para pelajar ini sebenarnya sudah pernah diperlihatkan pada tahun 2009 silam. Ketika itu, Presiden SBY bahkan yang meresmikannya.

Tapi ketika itu, nama Esemka tidaklah meledak seperti saat ini. Memang ada perhatian, tapi sedikit. Hal itu sama seperti ketika di tahun 2008, perusahaan PT Industri Kereta Api (INKA) memperkenalkan GEA yang merupakan singkatan dari Gulirkan Energi Alternatif. Setali tiga uang, GEA ketika itu tidak banyak direspon, atau paling tidak, tidak seheboh sekarang.

Lalu, saat bom telah meledak, bagaimanakah kelanjutan euforia mobil nasional Indonesia ini? Menurut saya pribadi, era industrialisasi mobil nasional yang masih jauh panggang dari api. Sebab, banyak kendala dan hambatan yang menanti mobil nasional ketika ingin memiliki volume penjualan yang tinggi.

Beberapa kendala yang akan dihadapi oleh mobil nasional yang juga diakui oleh pemerintah antara lain Keterbatasan supply chain dari industri komponen nasional yang umumnya IKM karena kualitas dan kontinuitas menjadi hambatan utama.

Lalu ada persyaratan teknis terkait regulasi keselamatan dan kualitas yang telah berlaku di Indonesia yang juga harus dilalui mobil nasional.

GEA

GEA

Kendala lain yang dihadapi adalah minimnya modal. Seperti kita tahu industri otomotif bukanlah seperti lari sprint yang selesai setelah berlari 100 meter, tapi lari maraton yang akan memakan waktu lama. Disini, ‘belum ada’ pihak swasta yang mau menggelontorkan dana besar untuk mewujudkan mobil nasional itu agar bisa menyaingi modal produsen asing yang ada sekarang.

Apalagi, BUMN seperti INKA pun dipastikan tidak akan menyeriusi langkah membuat GEA karena core bisnisnya adalah industri kereta api.

Disamping itu tentu bakal ada resistensi dari produsen mobil merek asing dan yang terakhir ‘setengah hatinya pemerintah’ membantu kelahiran mobil nasional ini.

Apa maksud tulisan saya diatas? Sebentar, sebelum membahas hal tersebut, mari kita bahas dulu kerancuan definisi dari mobil nasional ini. Bahkan, saking rancunya, Kementrian Perindustrian sampai meminta anggota DPR RI untuk membuatkan kriteria mobil nasional ini.

Definisi pertama dikemukakan oleh para pengembang mobil merek lokal seperti Fin Komodo, AG-Tawon, GEA, Kancil, Wakaba, Merapi dan Boneo merapatkan barisan membentuk sebuah perkumpulan bernama Asosiasi Industri Automotive Nusantara (Asia Nusa).

Menurut Asia Nusa ada 3 aspek pokok yang harus dimiliki sebuah mobil nasional. Pertama pemilik perusahaannya adalah orang Indonesia. Kedua pemegang hak patennya adalah orang Indonesia dan ketiga pemegang mereknya adalah orang Indonesia.

Tapi definisi itu dibantah oleh bos-bos produsen mobil merek asing yang sayangnya berkewarga-negaraan Indonesia. Menurut pabrikan mobil asing ini, kita haruslah realistis dan melihat semua secara utuh.

Mobil-mobil yang mereka produksi pun diklaim meski menggunakan merek luar, tapi sudah dibangun di Indonesia dengan menggunakan komponen Indonesia dan dirakit oleh orang Indonesia. Karena itu, mereka merasa predikat mobil nasional juga pantas mereka sandang. Sementara mobil merek lokal pun menurut mereka tidak sepenuhnya menggunakan komponen lokal karena ada beberapa komponen impor.

Kriteria ini merupakan dasar yang memang mutlak untuk dicari tahu. Sebab bila kriteria sudah didapat, maka itu bisa menjadi dasar kebijakan bila pemerintah ingin membantu baik dari sisi penjualan ataupun kemudahan-kemudahan perizinan meski keringanan bea masuk atau pajak saya ragukan akan diberikan karena tekanan WTO saat ini masih ditakuti pemerintah.

Lebih lanjut, kriteria ini juga akan berhubungan dengan dasar strategi kedua, yakni, mau dimulai dari mana proyek mobil nasional Indonesia ini? Maksudnya, apakah kita mau memulai dengan membuat merek sendiri dan mengembangkan teknologi sendiri serta mesin sendiri?

Timor

Timor

Ataukah kita mau berafiliasi dahulu dengan pabrikan besar seperti Timor dan Bimantara dahulu ketika menggandeng pabrikan Korea atau Proton awalnya yang menggandeng pabrikan Jepang?

Kalau pilihan pertama yang kita pilih, maka butuh waktu bertahun-tahun lagi agar seluruh komponen yang melekat di sebuah mobil nasional adalah komponen lokal. Sebab riset dan pengembangan butuh waktu yang tidak sebentar dan tentunya dana yang sangat besar mengingat sebagian besar pabrikan dunia saja membutuhkan dana hingga miliaran dollar untuk merancang dan meriset sebuah mobil. Ya, sebuah.

Bila kita mau pilih pilihan kedua, jalan sedikit akan mudah karena kita hanya akan menggunakan merek lokal dan sebagian komponen, sementara sebagian lainnya ‘berbagi’ dengan merek luar yang kita pilih. Hanya saja, kalau begitu, kita tetap harus membayar royalti pada sang prinsipal meski sangat mungkin alih teknologi bisa dipercepat.

Lalu, ketika dua hal tadi, kriteria dan titik memulai sudah kita pilih, kita terhalang lagi dengan ‘bantuan setengah hati’ yang diberikan pemerintah. Sebab, kalau mau jujur melihat, pemerintah kita sejak beberapa tahun lalu memang tidak memiliki ambisi untuk membuat mobil nasional.

Kebijakan yang pemerintah terapkan lebih ke arah untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi di Asia Tenggara, bersanding dengan Thailand yang saat ini menjadi pembuat mobil terbesar di Asean meski mereka tidak memiliki mobil nasional.

Lihat saja langkah Kementrian Perindustrian yang telah menyusun roadmap pengembangan industri kendaraan bermotor pada tahun 2011 sampai dengan 2025. Rincian roadmap tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tahun 2011 diharapkan dapat mengembangkan dan memproduksi:

MPV, light commercial s/d 24 ton da KBM hemat energi-ramah lingkungan, pembuatan mesin, transmisi, komponen untuk MPV dan light commercial truck.

2. 2015 diharapkan dapat mengembangkan dan memproduksi:

MPV, light commercial s/d 24 ton, SUV dan sedan kecil hemat energi-ramah lingkungan, design KBM R4 untuk MPV dan light commercial truck, pembuatan mesin, transmisi commercial truck s/d 24 ton dan komponen commercial truck s/d 24 ton serta SUV.

3. Tahun 2020 diharapkan dapat mengembangkan dan memproduksi:

MPV, SUV, sedan kecil, commercial truck s/d 24 ton, sedan kelas menengah, hybrid car dan luxury car, design KBM R4 untuk sedan menengah dan komponen KBM luxury car.

Dan patut diketahui, kata-kata ‘diharapkan dapat mengembangkan dan memproduksi’ bukanlah merujuk pada sebuah pembuatan mobil nasional. Tapi lebih kepada keinginan pemerintah untuk menjadi tempat merek-merek global memproduksi dan membuat mobil disini. Pertama pemerintah ingin agar para produsen asing itu merancang mobil disini, paling tidak untuk tahap facelift mobil, sebelum akhirnya merancang mobil dari awal disini. Selain itu kata ‘produksi’ tadi menggambarkan ambisi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi.

Lepas dari roadmap tadi, masih ada program Low Cost and Green Car (LCGC) yang saat ini tengah digodok aturannya oleh kementrian-kementrian terkait. Pada program ini jelas terlihat kalau kecenderungan pemerintah adalah menggandeng merek-merek asing untuk ikut serta.

Sebab, syarat untuk ikut serta dalam program ini adalah untuk jenis kendaraan MPV dengan mesin berkapasitas 1.000-1.200 cc dengan konsumsi bahan bakar 20-22 km/liter, komponen lokal diharapkan pada tahun ke-6 sudah mencapai 80 persen termasuk pembuatan power train (engine, transmisi dan axle). Hal ini tentu sulit untuk dicapai oleh merek-merek lokal yang ada sekarang.

Untuk program ini, bahkan pemerintah juga sudah mengakui kalau program ini akan mendatangkan investasi baru di tingkat perakitan (assembling) dari merek asing. Merek-merek yang sudah berkomitmen untuk investasi antara lain Daihatsu, Suzuki, Toyota, Mitsubishi, Nissan dengan total investasi sebesar USD 1,8 miliar dan tenaga kerja yang diserap mencapai 15.000 orang. Sedangkan investasi tambahan/ikutan ditingkat industri komponediperkirakan sebesar USD 1,9 miliar degan tambahan tenaga kerja baru antara 15.000-17.000 orang.

Komodo

Komodo

Dilihat dari langkah ini dan roadmap yang sudah dibuat saja sudah jelas tidak ada strategi terukur yang disiapkan sejak lama untuk momen kelahiran mobil nasional. Saya merasa, argumen-argumen pemerintah yang mengatakan akan membantu kelahiran mobil nasional hanyalah lip service untuk memuaskan ‘kuping’ masyarakat yang mendengarnya. Jadi, apa pun kriteria dan titik mulai yang kita pilih, bantuan setengah hatilah yang akan kita dapat.

Langkah politisi yang bersuara lantang ketika membeli, membela atau mendesak lahirnya mobil nasional pun bisa dibilang sebagai aji mumpung. Ketika ada momentum yang mendapat banyak perhatian, politisi tentu ingin mendapat tempat. Apalagi, pemilu sudah dekat.

Tawon

Tawon

Padahal bisa dibilang kalau potensi pasar mobil Indonesia terbilang sangat besar, bahkan beberapa kalangan mengatakan kalau Indonesia adalah pasar mobil paling seksi di Asean saat ini bila dilihat dari rasio kepemilikan mobil yang baru 30an mobil per 1.000 penduduk dengan jumlah penduduk yang sekitar 240 jutaan meski tidak bisa dipungkiri kalau pada ujungnya seleralah yang akan bicara.

  1. Indonesia hanya dijadikan pasar tapi qta gak dapat apa2…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: