Nasionalisasi Angkutan Umum di Jakarta!

gatsu21

Tidak bisa dipungkiri, angkutan umum sering bandel dan bikin jengkel. Kalau jalanan lagi lenggang, eh dia selap-selip enggak karuan. Kalau tidak, mereka ngetem dan menurunkan penumpang seenaknya. Hal itu tentu bikin jengkel.

Dan menurut saya, cara ekstrem untuk menghabisi kebiasaan buruk tersebut adalah dengan melakukan Nasionalisasi angkutan umum, khususnya angkutan umum di Jakarta.

Apa alasannya? Sederhana. Sebab, kelakuan buruk yang saat ini diperlihatkan oleh supir-supir angkutan umum itu terjadi karena mereka mengejar setoran. Ya, setoran yang harus dibayarkan ke pemilik angkutan tiap beroperasi. Akhirnya, para pengguna jalan lainlah yang menjadi korban.

Lalu, kenapa harus nasionalisasi? Ya, jawabannya kembali sederhana. Tujuan nasionalisasi angkutan umum ini juga cukup sederhana, yakni merubah mindset para supir dari mindset ‘kejar setoran’ ke pelayanan publik.

Caranya, supir Kopaja/Metromini digaji seperti halnya supir Trans Jakarta. Jadi mau bus penuh atau kosong, si supir tidak perlu risau, toh mereka tetap digaji sama.

Dan ketika saya dapat kesempatan untuk mengutarakan hal itu ke Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, dia pun ternyata memahaminya. Tapi, yang jadi masalah sejak puluhan tahun menurut pria berkumis ini adalah Uang. Ya, dana yang minim. Karena untuk melakukan nasionalisasi itu butuh dana yang tidak sedikit.

fauzi-bowo-outBukan apa-apa, inisiatif untuk membuat jaringan transportasi umum yang menurut Foke sudah tercetus sejak sekitar tahun 87 silam saja baru bisa direalisasi dengan kehadiran Trans Jakarta beberapa tahun terakhir ini.

“Tapi sekarang kita sedang menyiapkan aturan untuk meminimalisir hal-hal seperti itu. Contohnya, bus nanti tidak boleh dimiliki individu, tapi harus perusahaan. Lalu bus kecil (seperti Kopaja/Metromini) akan kita hilangkan dan akan menggunakan bus dengan kapasitas lebih besar,” paparnya.

Dahulu, Pemerintah DKI menurut Foke berniat untuk membuat sebuah ‘kereta jalanan’ seperti trem. Saat itu Pemprov menurut Foke sudah mendekati Mercedes-Benz sebagai produsen dan pemerintah Jerman, tapi sayang, pendekatan itu gagal.

tremFoke mengatakan kalau dirinya sampai saat ini masih yakin kalau kendaraan umum berbasis rel-lah yang dapat menjadi solusi bagi kemacetan Jakarta karena bisa menampung lebih banyak penumpang dibanding angkutan massal jenis lain.

Lalu bagaimana dengan nasib tiang-tiang monorel yang menghuni beberapa ruas jalanan Jakarta akibat proyek monorel yang gagal? Ternyata, menurut pejabat Pemprov yang mengobrol dengan saya, Pemprov saat ini sudah menyiapkan rencana untuk membuatnya sebagai jalan layang untuk Trans Jakarta.

Jadi, di tiang itu akan dibangun jalan layang satu ruas yang akan bisa dilewati Trans Jakarta. Tapi, lagi-lagi hal ini menghadapi masalah.

“Sudah sejak beberapa waktu lalu kita nego dengan Adhi Karya yang punya tiang itu. Kita mau pakai. Tapi mereka minta ganti biaya pembangunan sebesar Rp 600 miliar. Padahal ketika kita hitung tidak sampai angka itu, cuma sekitar Rp 200 miliar. Makanya Pemprov cuma berani bayar Rp 200 miliar. Nah karena harganya yang enggak ketemu itu yang bikin rencana belum terwujud. Kalau sudah deal, jalan layang busway ini akan langsung dibangun,” kata si pejabat yang tidak mau namanya disebutkan.

subwaySementara menyangkut rencana pembangunan Mass Rapid Transit berupa kereta bawah tanah yang menghubungkan antara kawasan Lebak Bulus sampai Duku Atas, Foke mengatakan kalau saat ini pihaknya sedang mempersiapkan tender. Menurut target, mereka mau pada bulan September nanti sudah ada pemenang tender yang mulai mengerjakan proyek ini agar sudah bisa terealisasi di 2016.

Dengan langkah-langkah itu, Foke berharap masyarakat akan beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal. Sebab pria lulusan Jerman ini mengakui kalau pihaknya tidak bisa melarang orang membeli kendaraan.

Hanya saja, untuk meredamnya, hanya bisa dilakukan dengan menyiapkan infrastruktur untuk kendaraan angkutan massal tersebut meski dirinya mengakui bahwa untuk jangka pendek hanya pengembangan Trans Jakarta saja yang paling masuk akal.

Dan saat ini hanya ada 30 ribu kendaraan umum yang terdiri dari 20 ribu taksi dan sisanya bus, mikrolet dan lainnya. Dari jumlah saja angka tersebut sudah menyedihkan. Apalagi bila ditambah dengan kenyataan bahwa kondisi kebanyakan angkutan umum massal di Jakarta masih jauh dari kata baik.

Padahal kendaraan umum di Jakarta harus melayani sekitar 10 juta orang dari 20 juta orang yang melakukan perjalanan setiap hari di seluruh wilayah Jakarta dari berbagai sisi.

“Ini (pembenahan) tidak bisa instant,” ujarnya.

    • Triyanto Banyumasan
    • January 28th, 2012

    Mampir meninggalkan jejak Bro. Sekalian nimba ilmunya. salam

    • bambanghw
    • January 31st, 2012

    setuju pak foke…lebih baik subsidi angkutan umum dari pada mobil pribadi…

    • Farrel
    • May 6th, 2013

    Tapi pas saya baca dikoran dibilang kalo monorel jadi dibangun utk rute Lb. Bulus- HI. Salam

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: