Pesan Terakhir Sondang

istana

“Terkutuklah buat ketidakadilan, terkutuklah buat ketidakpedulian, terkutuklah buat kemiskinan, terkutuklah buat rasa sakit dan sedih…” demikian beberapa kalimat tulisan Sondang sebelum melakukan aksi bakar diri di depan istana presiden. Ini adalah aksi bakar diri di depan istana pertama sejak Indonesia merdeka!

Sondang Hutagalung (22) menulis sebelum melakukan aksi bakar diri di depan Istana, Jl Medan Merdeka Utara, Desember 2011 lalu. Sondang sempat menjalani perawatan di RSCM sebelum akhirnya meninggal dunia karena luka bakar.

Pesan Sondang tersebut diketahui keluarganya, ketika melihat catatan di buku milik kekasihnya, Putri. Buku itu sempat dibawa Sondang dan kemudian dititipkan ke kerabat Putri. Ada permintaan maaf Sondang kepada keluarga dan juga kata-kata kemarahan kepada ketidakadilan yang terjadi di Indonesia.

Meski tidak saling mengenal secara profesional dan personal, Sondang dan penulis adalah sama-sama keluarga dari universitas yang sama, Universitas Bung Karno. Banyak pihak memprediksi bahwa aksi Sondang ini akan membuahkan revolusi di Indonesia. Bahkan media-media luar pun sempat memberitakan hal itu dan memprediksi hal yang sama meski akhirnya terbukti tidak, atau paling tidak, belum terjadi.

Sebenarnya, kalau mau melirik situasi global, prediksi revolusi itu didasari aksi serupa yang dilakukan oleh Mohamed Bouazizi di Tunisia.

Ceritanya, Mohamed Bouazizi drop out dari SMP karena orangtuanya tak mampu bayar uang sekolah. Nah, untuk memperbaiki nasib yang jelek tersebut, mereka pun sekeluarga pindah ke kota yang lebih kecil, R’gueb, dan bekerja di peternakan saudara.

Tapi, lagi-lagi kesialan menghampiri. Peternakan mereka bangkrut karena jadi korban pemerasan aparat yang membuat Bouazizi dan keluarganya balik lagi ke Sidi Bouzid, Tunisia tengah.

Kembali sebagai orang gagal ternyata tidak menyurutkan semangat Bouazizi untuk berusaha. Bouazizi pun memutuskan mencoba peruntungan sebagai penjual buah dan sayur dengan hanya bermodal gerobak serta utang kanan-kiri untuk membeli dagangan.

Tapi lagi-lagi, Bouazizi harus berhadapan dengan aparat. Usaha kaki limanya dilarang dan gerobaknya jadi langganan disita polisi. Karena tidak tahan lagi, Jumat, 17 Desember 2010, Bouazizi yang frustasi karena punya utang sekitar Rp 1,7 juta pergi mengadu ke gubernur untuk menanyakan mengapa polisi belum mengembalikan gerobaknya.

Tapi lagi-lagi dan lagi-lagi, dia harus berurusan dengan aparat. Bouazizi diusir polisi. Akibatnya fatal. Bouazizi pun makin frustasi hingga akhirnya memilih membakar diri di depan kantor gubernur.

Aksi itu membuat Bouazizi menderita luka bakar parah dan rakyat marah. Sepanjang akhir pekan setelahnya, massa melakukan demonstrasi dan menjarah. Pembakaran dan penjarahan kemudian segera menyebar ke seluruh negeri dan perlahan tapi pasti, rakyat tergerak mempersoalkan tingkat pengangguran yang tinggi dan korupsi para pejabat.

Rezim Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali yang berupaya bertahan dari serangan-serangan permintaan rakyatnya pun berupaya mencari jalan menenangkan rakyat. Tapi sayang, era internet memupus usahanya.

Aksi Bouazizi kemudian ditiru beberapa demonstran di Mesir dan Aljazair karena efektif memicu revolusi. Kurang dari dua bulan, ”Revolusi Melati” di Tunisia merembet ke sejumlah negara Timur Tengah. Banyak rezim kemudian berguguran.

Tapi sayangnya, aksi yang dilakukan Sondang itu belumlah menghasilkan buah hal yang sama dengan Bouazizi. Meski bisa dibilang rakyat Indonesia sudah muak dengan rezim sekarang.

Dan yang lebih parah lagi, kinerja tiga cabang kekuasaan yang terdiri atas ”execu-thieves”, ”legisla-thieves”, dan ”judica-thieves” dalam sistem ”Trias Poli-thieves” yang kita anut pun tidak memberikan hasil yang menggembirakan. Semua buruk rupa.

Hal ini pada akhirnya membuat fenomena aneh di masyarakat dimana euforia ‘peduli pada politik negara’ selepas reformasi 98 ketika sekian lama terkungkung  sepertinya kembali menghinggapi rakyat kita karena kinerja ketiga lembaga negara tadi.

Tapi, lagi-lagi, lagi-lagi dan lagi-lagi, semoga aksi Sondang ini tidaklah sia-sia. Semoga akan ada pergerakkan yang membawa pencerahan untuk bangsa kita.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: