Bugatti Veyron dan McLaren F1 di Mata Mr Bean

edmund-dalam

Apa yang terjadi bila seorang Rowan Atkinson alias Mr. Bean berbicara tentang otomotif? Ternyata sangat brilian. Di luar image lucu yang kadung disandangnya, Rowan ternyata memiliki pengetahuan otomotif yang luas.

Hal tersebut dibuktikan Rowan ketika membandingkan dua supercar prestisius yakni Bugatti Veyron 16.4 lansiran tahun 2009 dengan McLaren F1 buatan tahun 1997. Keduanya adalah supercar yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dengan harga yang juga luar biasa tinggi dan tentu di atas rata-rata pula.

Rowan sendiri selama ini memang dikenal sebagai kolektor mobil-mobil sport, walaupun sering pula dia menabrakkan beberapa koleksinya.

Nah ketika berbicara tentang spesifikasi teknis dan sejarah kedua mobil yang akan dites itu tidak heran bila Rowan terlihat sangat piawai. Dan tidak pakai berlama-lama, kedua mobil itu di tes langsung oleh Rowan di sirkuit Rockingham, Inggris.


Melintasi aspal tua Rockingham, McLaren F1 sering understeer. Sementara Bugatti menurut Rowan berhasil menyajikan sebuah mobil bertenaga dahsyat namun tetap mudah sekali digunakan.

2009_bugatti_veyron-164_group_fe_3_717“Di McLaren, Anda satu-satunya pelaut dalam perahu kecil, sendirian dan langsung bertanggung jawab atas apa dan kapan sesuatu akan terjadi. Tetapi di dalam Bugatti, kau adalah kapten sebuah kapal perusak, dengan ratusan taruna yang siap melakukan permintaan anda seperti bergegas ke Mesir. Bahkan Veyron sebenarnya seperti permainan komputer, jika anda kecelakaan, semua akan baik-baik saja dengan menekan tombol reset,” tulis Rowan.

Dalam udara dingin dan lembab ketika musim gugur di Inggris, rem Bugatti tampil sangat baik. Dengan delapan kaliper di depan dan 6 kaliper di belakang, Veyron menurut Rowan memiliki jarak berhenti yang lebih pendek, meski pun Veyron buatan 2009 tentu saja memiliki perangkat yang lebih canggih dengan berat sekitar 4.410 pound lebih berat dari F1 lansiran 1997 yang hanya 2.756 pound.

Namun McLaren memiliki posisi duduk yang menurut Rowan paling sempurna. Ini sangat penting karena dengan posisi sempurna itu si pengendara dapat
mengendalikan mobilnya dengan lebih baik dengan instrumen kontrol yang dapat dijangkau.

Sementara Veyron memiliki kelemahan disini. Si pengendara tidak terlalu nyaman di Veyron karena posisi duduk y ang tidak sempurna dan terlalu rendah. “Sehingga satu-satunya cara aku bisa mengendalikannya adalah dengan bersandar ke depan dan memeluk kemudi seperti seorang nenek-nenek,” jelas Rowan.

Ada yang unik dalam pengetesan ini. Sebab Rowan ternyata memasukkan kapasitas bagasi di pengetesan supercar ini. Rowan beranggapan setiap mobil haruslah mampu digunakan untuk keperluan sehari-hari meskipun itu terkadang sepele.

“Tapi bagiku ini penting, karena pemilik supercar jarang sekali melakukan
hal-hal biasa dengan alat yang luar biasa ini,” katanya.

Di sektor ini McLaren F1 menang karena meskipun bertubuh lebih kecil F1 mampu membawa dua koper besar. Di F1 pun si pemilik dapat membawa serta penumpang tambahan. Sementara di Veyron si pemilik tidaklah bisa membawanya liburan kecuali barang bawaan mereka di kirim dengan paket terlebih dahulu.

2009_bugatti_veyron-164_group_fe_6_717Nah untuk performanya, mesin F1 yang lebih kecil terasa jauh lebih halus dan lebih mudah diprediksi. Sebaliknya, Veyron dengan mesin turbocharged W16 secara fisik terlihat besar dengan suara yang juga tidak kalah besarnya. bahkan ketika anda sudah sampai di atas putaran 4.000 rpm, suara mesinnya itu membuat benar-benar menakutkan, seperti gemuruh. “Kedengarannya lebih seperti lokomotif diesel daripada sesuatu otomotif,” tandasnya.

Tapi karena mesin sangarnya inilah, sensasi berkendara Veyron menurut Rowan jadi tidak terlukiskan. Setelah mengujinya, Rowan mendapatkan akselerasi ke 60 mph hanya dalam waktu kurang dari 2.4 detik dan dapat mencapai 186 mph atau 300 km/jam hanya dalam waktu 16.7 detik saja.

Hal ini menakjubkan, terutama karena dilakukan oleh sebuah mobil yang memiliki berat lebih dari 2 ton. Kecepatan Veyron ini lebih cepat dari McLaren F1.

Namun begitu, Rowan menyimpulkan meskipun Bugatti Veyron 16,4 adalah mobil yang lebih baik, McLaren F1 mungkin mobil yang lebih istimewa. Sebab di F1 anda lebih banyak memegang kendali atas mobil anda dari pada komputer yang teraplikasi disana.

Sedangkan di Veyron Anda hanya seperti penumpang yang hanya mengeluarkan
perintah kemana Anda ingin pergi dan mencari cara optimal untuk mewujudkannya. Hal itu terjadi karena Veyron memang lebih banyak dikendalikan pleh sistem mereka yang sudah terkomputerisasi.

Itu menurut Rowan memang tidaklah aneh. Sebab menjual mobil berkekuatan 1.001 hp tanpa mengaplikasi sistem stabilitas elektronik sama saja dengan membunuh penggunannya. “Dan setengah pelanggan Anda akan mati dalam waktu satu bulan,” pungkasnya.

Rowan pun memberi saran bagi para orang kaya yang kebingungan memilih untuk membeli mobil yang mana di antara kedua mobil itu. “McLaren F1 akan terus naik nilainya, sementara Bugatti Veyron 16,4 hampir pasti akan turun,” ujarnya.

Tapi bila anda adalah seorang jutawan yang memperhatikan masalah gengsi, Rowan menyarankan untuk membeli keduanya. “Karena depresiasi (harga) yang satu dapat ditutupi oleh apresiasi (harga) yang lain,” pungkasnya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: