Kenapa sih Ada Macet di Jakarta?

macet-dalam

Suatu Jumat malam di sebuah warung indomi yang juga menyediakan kopi.

“Aduh pusing banget deh liat status twitter sama facebook. Masa isinya semua orang marah-marah karena macet. Di BBM juga lagi. Huft,” celetuk Reno tiba-tiba.

Andri yang berada di sebelahnya pun kaget. “Kenapa lo No?,” tanyanya.

“Ya ini. Semua status orang pada marah-marah karena macet. Cape ga sih bacanya,” timpal Reno.

“Ooo, itu mah emang udah lumrah,” lugas Andri. “Kok gitu, emang kenapa?,” tanya Reno.

“Begini No, bagaimana kalau kita lihat dahulu latar belakang kenapa kemacetan ini terjadi ya,” jelas Andri diplomatis sambil utak-utik laptop yang ada di depannya.

“Pertama, mari kita lihat dari jumlah kendaraan yang ada. Nih, dari google gue dapat data kalau ternyata, Jakarta yang sudah penuh manusia juga memiliki populasi kendaraan yang sangat tinggi. Jumlah kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 12 juta unit per Desember 2010 yang terdiri motor 9 juta, dan mobil 3 juta unit,”

“Angka tersebut kemudian masih ditambah dengan penjualan hingga November dimana mobil sudah terjual lebih dari 700 ribu unit dan motor lebih dari 7 juta unit.”

“Waduh, banyak amat ya,” kata Reno kaget.

“Eits, tunggu dulu. Masih ada lagi nih. Tahun 2002 ternyata sudah ada sekitar 7,2 perjalanan per hari per jam dari sekitar Jakarta ke pusat kota. Sedangkan untuk 2010 ada 9,9 juta orang akan berlalu lalang di Jakarta.”

“Kenyataan itu juga belum selesai No. Pertumbuhan kendaraan di daerah sentral Indonesia yang sudah sedemikian masif setiap hari kedatangan mobil baru sebanyak 236 unit mobil dan 891 unit sepeda motor di Jakarta saja, sedangkan di daerah satelitnya yakni Depok, Tanggerang dan Bekasi pertambahan kendaraan lebih gila lagi yakni 319 unit mobil dan 1.707 unit motor. Itu tahun 2009 ya. Angka itu pastinya nambah karena pertumbuhan penjualan mobil dan motor juga terus nambah.”

“Padahal luas jalan di Jakarta hanya 40.07 juta meter persegi,” cetus Andri. “Al hasil, kemacetan tentu memang dipastikan menjadi bumbu harian bagi penduduk Jakarta. Ada 747 titik kemacetan di ibukota.”

“Tapi kan,” sela Reno, “udah banyak solusi yang diwacanain pemerintah. Pembatasan kendaraan, pelebaran jalan sampai pengadaan Trans Jakarta,” tolak Reno.

“Pertarungan antara kepolisian, perhubungan dan PU dengan kementrian perdagangan dan kementrian industri membuat pembatasan masih jauh dari jangkauan No,” jawab Andri.

“Akhirnya, pelebaran jalan dianggap solusi. Taman kota dan trotoar yang menjadi hak pejalan kaki pun jadi korban.”

“Coba saja ingat, bagaimana pada tahun 2006 lalu, Jalan Thamrin Jakarta yang membentang dari Monas hingga jembatan Kanal Banjir Timur di Dukuh Atas masih di dapati taman jalan. Waktu itu, dari depan Patung Indosat hingga Bundaran HI, taman jalan membagi antara jalur lambat dengan jalur cepat. Selain mempercantik kota, taman ini juga mengurangi polusi yang keluar dari knalpot kendaraan.”

“Namun, Gubernur Sutiyoso waktu itu, menurut google, membabat taman jalan dengan alasan mengurai kemacetan. Jalan bertambah ruasnya, namun macet tetap tak terhindarkan.”

“Setali tiga uang dengan Jalan Thamrin, nasib serupa dialami Jalan Sudirman. Waktu itu, pedesterian (trotoar) yang dulunya 7 meter dipangkas 2 meter. Pemprov saat itu beralasan ruas 2 meter tersebut guna berbagi dengan kendaraan. Namun setelah 5 tahun, Jalan Sudirman bukannya terurai macet, namun semakin menumpuk.”

“Nasib Jalan Sudirman-Thamrin inipun menimpa jalanan di berbagai penjuru Jakarta. Seperti simpang Pasar Senen, Jalan Arteri Iskandar Muda, fly over Ancol, atau simpang Tomang.”

“Akhirnya, kendaraan tetap membludak, kemacetan tetap menggurita dan pemandangan alam pun jadi rusak.”

“Bahkan sebagai gantinya, setiap tahun menurut Kementerian Perhubungan masyarakat sebenarnya mengalami kerugian hingga Rp 28,1 triliun per tahun.”

“Bahkan menurut Ekonom UI Andrinof Chaniago kerugiannya malah bisa mencapai Rp 43 triliun karena konsumsi BBM yang naik serta jasa perbaikan kendaraan yang makin mahal.”

“Eh bentar-bentar. Kok lo kayaknya tau banget sih,” tanya Reno. “Dodol lo ah, nih kan gue lagi cek di mbah google,” sungut Andri.

“Ooo.. Oke, oke. Coba lanjutin,” kata Reno ikhlas dipanggil dodol.

“Nah gitu donk. Sama kayak teman-teman lo itu, tiap warga yang kena macet pun teriak dan menyalahkan pemerintah. Warga mengatakan kalau para pemilik kendaraan harusnya punya empati dan meninggalkan kendaraannya di garasi,” lanjut Andri.

“Tapi masalah lain timbul. Kondisi kendaraan umum yang ada masih belum menyuguhkan sebuah citra kendaraan umum yang aman, nyaman dan tepat waktu.”

“Kondisi sebagian kendaraan umum itu pun memprihatinkan. Padahal kita hanya memiliki 63 ribu unit kendaraan umum di Jakarta.”

“Akibatnya, penggunaan angkutan umum pun mengalami penurunan yang cukup drastis apabila dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Penggunaan angkutan umum di Jakarta hanya sekitar 14%, sedangkan 10 tahun lalu mencapai 38%. Oleh karena itu, kemacetan menjadi menjalar adalah sebuah keniscayaan.”

“Kalau gitu, kita harus gimana dong. Serba salah dong jadinya,” sela Reno.

“Kalau sudah begitu No, sudah bukan saatnya lagi saling menyalahkan. Saat ini adalah saat dimana kita harus bergandengan tangan.”

“Pemerintah harus segera membenahi manajemen lalu lintas ibukota sembari membangun jaringan kendaraan umum yang aman, nyaman dan tepat waktu. Kendaraan umum berusia uzur pun sudah seharusnya di ‘museum’ kan.”

“Dan warga Jakarta kayak temen-temen lo itu harus bersikap realistis. Bila bisa menggunakan kendaraan umum, mari kita gunakan itu. Tapi bila memang kegiatan mengharuskan kita untuk menggunakan kendaraan pribadi, maka jadilah pengguna jalan yang tertib. Patuhi seluruh aturan, karena sepadat-padatnya jalanan kalau ketertiban dibangun, niscaya akan lebih baik dibanding ‘macet+semrawut’.”

“Iya juga ya. Ya udah deh. Kalau gitu gue buat bareng-bareng wujudin jalanan Jakarta yang aman, lancar dan tertib,” ujar Reno semangat.

  1. betul!
    mudah2an aja dengan adanya gubernur yang baru inih biasa ngerubah Jakarta,, amiinn🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: