Kisah si Buta

elephant

Al kisah ada empat orang buta berjalan di sebuah padang. di tengah jalan mereka terhalang oleh seekor gajah yang dengan tidak perduli berdiri menyamping, menghalangi langkah mereka.

Lelaki pertama menabrak tubuh sang gajah, setelah sedikit meraba, ia lalu mengumpat dengan kesal. “siapa sih yang iseng membangun tembok di tengah padang seperti ini.”

Hampir bersamaan dengan itu lelaki buta kedua menyentuh sesuatu dan dengan takut berbisik. “Ada ular di sini” seraya mencoba menyingkirkan belalai sang gajah yang di pikirnya ular tersebut dari jangkauannya.”

“Mana, dimana ularnya???” tanya lelaki ketiga sambil mencoba mengambil sesuatu yang sedari tadi menghalangi dan memperkirakannya sebagai kayu gelondongan.

lelaki keempat tak mau ketinggalan. di rabanya lingkungan sekitar, dengan harapan akan dapat menggapai sesuatu yang dapat membantunya menolong temannya. Dan tepat, saat itu ia menemukan sehelai barang mirip cemeti. ” sini, biar saya cambuk itu mahluk.” seraya menarik ekor gajah tersebut.

Tak pelak saja, sang gajah kaget dan marah karena mersa terganggu. Gajah pun mengamuk hingga melukai keempat orang buta tadi.

Ya begitulah nasib mereka. Akhirnya melukai dan terluka karena ketidak-tahuannya. mereka menganggap pengetahuan yang mereka dapat saat itu sudah bisa membantu mereka menjustifikasi sesuatu. Padahal mereka salah. Salah besar.

Pengetahuan mereka terbatas, namun merasa sudah tau segalanya. seekor gajah dengan tubuh, belalai, kaki serta ekornya saja mereka artikan dengan keliru karena tidak mau meraba dan mencari pengetahuan yang lebih luas. mereka merasa puas dengan sedikit pengetahuan yang mereka miliki.

Mereka puas dengan semua itu. hingga terciptalah ’seonggok’ manusia yang berpikiran sempit. Yang tak mau berpikir, mencari tau, dan mengembangkan pengetahuaannya.

Mereka menjadi sampah bagi perkembangan yang lain. menjadi racun yang mengotori pikiran orang lain.

Itulah yang biasa kita alami dan orang-orang buta ini bukanlah ilusi. Mereka ada di sekitar kita. Mereka tersamar dan terselubung dalam jubah egoisme dan kepicikkannya. terselubung dalam pikirannya yang sempit. Hal tersebut terjadi bukanlah karena di sebabkan oleh matanya yang buta. Tapi lebih kepada pola pikiran.

Pikiran mereka yang sempit dan kecil itu, tidaklah lebih besar dari kotak televisi yang bahkan kini telah kehilangan arti.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: