Menunggu Gadis Hujan

blackandwhitegirlrainwomanphotographyumbrella

Aku masih duduk di bangku panjang halte bus itu ketika hujan turun menyirami bumi yang sedang rindu akan kasih sayang langit. Di bangku panjang yang tebuat dari pipa besi ini aku duduk seorang diri.

Tadi menanti hujan namun sekarang merasa kesepian.

Sebenarnya Aku selalu merasa senang bila hujan datang ketika aku sedang menunggu bus di halte ini. Selalu senang karena gadis berambut panjang dan bermata sipit itu entah kenapa selalu ada di halte ini ketika hujan datang.

Ketika rintik jernih ribuan butir air jatuh mendinginkan wajah aspal jalanan yang sebelumnya terbakar oleh terik mentari, gadis itu selalu ada menemani. Dan anehnya ketika itu terjadi kami hanya berdua saja di halte ini.

Ya, hanya berdua.

Di bangku panjang yang di buat dari pipa besi panjang ini kami duduk bersandingan dalam diam menunggu kendaraan yang akan membawa kami pulang.

Tidak pernah satu kata pun keluar dari mulut kami berdua seolah tidak boleh ada sesuatu apapun yang mengganggu hikmat kami menikmati hujan.

Kami berdua seolah begitu meresapi hadirnya hujan di muka bumi sehingga gangguan suara sekecil apa pun terasa sangat menggangu. Dan karena begitu syahdunya kami menikmati saat-saat itulah bahkan untuk sekedar bertanya nama saja tidak pernah kami lakukan.

Seolah dalam kebisuan suasana yang disebabkan oleh rintik hujan ini kami sudah saling mengenal satu sama lain sehingga sebuah perkenalan konvensional tidaklah kami perlukan lagi.

Kami merasa sudah saling mengenal walaupun tidak pernah berkenalan.

Aku selalu ingat wajah manis gadis berambut panjang dan bermata sipit tersebut walaupun sebenarnya aku tidak mengetahui namanya. Aku selalu ingat senyum manis yang menghiasi wajah itu ketika bertemu aku di halte ini. Begitu manis senyum itu.

Hujan masih saja menguyur bumi saat ini. Saat aku menanti kehadiran gadis berambut panjang dan bermata sipir itu datang menghampiri. Dalam kesendirian dia tetap ku tunggu.

Di kantor tadi aku sudah menyiapkan strategi bila bertemu dengan gadis itu. Aku ingin mengetahui namanya, nama yang dapat aku gunakan untuk menyapa atau pun menyegarkan ingatanku padanya.

Sebuah nama yang dapat aku panggil dan ingat.

Namun, kemanakah gadis berambut panjang dan bermata sipit itu. Hujan telah berlangsung hampir sejam namun sosok anggunnya ternyata masih saja belum terlihat.

Kemanakah gadis berambut panjang dan bermata sipit itu?

Keraguan pun datang menghampiri, mungkinkah gadis itu akan datang ke halte ini dan duduk di bangku panjang yang terbuat dari pipa besi ini? Aku tidak tahu, yang ku bisa hanyalah menunggu.

Menunggu senyum manis gadis itu datang menyapa.

Dan penantian aku pun tidak berlangsung lama karena hanya berselang sebentar, gadis itu pun tiba di halte ini.Tetapi ternyata dia tidak sendiri.

Gadis berambut panjang dan bermata sipit itu datang bersama teman-temanya. Dengan sedikit berlari kecil, mereka akhirnya tiba di halte ini. Dan aku masih duduk sendiri.

Ketika gadis berambut panjang dan bermata sipit itu sedang bercengkrama dengan temannya, aku masih duduk seorang diri, memandang genangan air yang terbelah di terjang ban mobil di jalan depan halte.

Mereka pun terlihat masih asik bercengkrama dan bercanda ria di salah satu sisi halte ini.

Dalam keriangan tersebut sekilas aku dapat lihat senyum manis gadis sipit itu. Tetap cantik seperti biasa.

Namun bila keadaannya begini, bagaimana aku bisa mendapatkan nama gadis yang selalu menemani ku ketika hujan itu. Apakah aku harus menyela keasyikan dia bersama teman-temannya hanya untuk sekedar bertanya nama?

Aku pun kembali menunggu.

Aku berharap teman-temannya akan mendapat angkutan lebih dahulu dan bisa meninggalkan aku berdua seperti biasa.

Namun sepertinya itu percuma, karena sang surya kini tampak lebih kuat menyinari bumi dari beberapa waktu sebelumnya yang menandakan hujan akan berhenti. Sebentar lagi.

Tapi di sini aku tetap menanti. Menanti sebuah kesempatan untuk mendapatkan sebuah nama.

Dan ketika tiba-tiba hujan berhenti berganti cerahnya sinar mentari, harapan itu pun pergi. Kesyahduan di antara kami yang terbiasa menikmati hujan berduaan hilang bersamaan dengan hadirnya berkas cahaya sang surya.

Harapan ku mendapatkan nama gadis berambut panjang dan bermata sipit kali ini pun hilang. Sirna di cerahnya cahaya.

Dan akhirnya ketika hujan sudah benar-benar berhenti, aku pun pergi dari halte ini.

Pancoran, 8 April ’09
00:10

    • depz
    • April 8th, 2009

    girl in ur dream?

    • cow431
    • April 8th, 2009

    wah ngomongin cinta…. cinta terpendam lagi haha
    semangat bro

    • ruanghati
    • April 8th, 2009

    duh baca ampe bawah ..kirain dapet tuh nama gadis hujannya ternyata gak heheheh

    tunggu hujan lagi deh bro …

  1. numpang mampir nih..cinta first sight..? Gak ada salahnya “tuk say.. hello ” duluan kalo emang …ehm…

    • melly
    • April 10th, 2009

    tunggulah esok hari🙂

    • denBaguse
    • April 10th, 2009

    sabar dan sabar mas

  2. ini cerita fiksi ya?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: