Kebebasan ‘Sang Kalah’

poison

Dia duduk termenung di kursi reyotnya, di depan rumah kontrakan sebuah perkampungan kumuh Jakarta. Ditangannya rokok kretek sedari tadi ada, namun entah kenapa hanya dipijit-pijit ringan, mungkin agar mudah dihisap.

Lelaki itu masih termenung. Diam.

Termenung membayangkan kenyataan kehidupan yang semakin lama semakin berat membebaninya. Dengan enggan namun penuh perasaan, dibakar rokok yang sedari tadi hanya ia pegang di tangan itu. Dihisapnya dalam-dalam, lalu dikeluarkan.

Tetap dalam diam.

Setelah beberapa hisapan, Ikin -nama lelaki itu- kini meminum kopi yang telah sedari tadi telah disiapkan Iyem istrinya. Diminumnya pelan, seolah ia sedang mencoba mencari dan merasakan nikmat aroma dan rasa dari secangkir kopi murahan.

Ikin, lelaki 30 tahun itu memang sedang dibuat pusing oleh biaya pendidikan anaknya, Ipin, yang duduk dibangku sekolah dasar. Gajinya sebagai buruh pabrik rendahan pun, kini terasa amat sangat menyiksa. Dalam kegelisahan, ingatan terlintas. Mencuri perhatian pikiran yang sudah tak bisa berpikir. Saat ketika Ipin meminta dibelikan buku pelajaran. Ikin bingung, anaknya memang meminta sesuatu hal yang sederhana dan terlihat wajar adanya untuk seorang anak yang sedang sekolah. Namun apa daya, ternyata hal itu tak sanggup ia berikan.

Buku menjadi barang mewah dan mahal untuk ukuran buruh rendahan sepertinya. biaya pendidikan dasar yang digratiskan pemerintah ternyata hanyalah utopia belaka. Ya, hanya utopia. Bagaimana tidak?! Kini setiap murid haruslah membeli buku pelajaran yang baru setiap tahunnya.

Buku yang berbeda. Ya, diharuskan membeli buku yang benar-benar berbeda dan baru.

Inilah hal yang membuat pusing para orang tua dan menjadikan setiap murid kini tak bisa lagi membeli buku bekas dari kakak kelasnya apalagi untuk meminjam dari perpustakaaan tentulah tidak bisa, karena memang tak ada di sana.

Dengan terpaksa, setiap murid harus membeli buku yang baru, buku yang dijual oleh guru-guru. Inilah hal yang membuat Ikin bingung. Benar-benar bingung. Tapi, ia harus menyalahkan siapa. Ikin tak tahu harus bagaimana…

Karena di satu sisi, harga buku baru yang mahal, sungguh sangat memberatkan murid-murid miskin seperti Ipin. Namun di sisi lain, kesejahteraan guru yang rendah juga mendorong para guru memutar otak mencari uang tambahan dari gajinya yang tidak seberapa.

Lalu ia harus bagaimana?

Ikin masih terdiam. Dalam hening, ia hisap kembali rokok kreteknya dengan khusyuk.

Masih terngiang pula dalam kepalanya ketika Ipin bercerita. Cerita sedih dari sekolah, tempat belajar, dimana anaknya tersebut di marahi guru karena tidak punya buku pelajaran.

Dia ingin marah. Marah pada semua orang. Marah pada keadaan yang menyudutkannya dan menjadikan dia sebagai orang kalah. Tersiksa dalam pergulatan ekonomi sekarang ini. Apalagi bila ia kembali mulai mencoba, kembali mencoba menghitung semua hutang-hutangnya yang kini semakin bertumpuk dan mulai membelitnya. Itu membuat ia makin frustasi.

Gajinya yang rendah begitu menyiksanya. Bayar kontrakan, untuk makan, serta untuk biaya pendidikan anaknya yang terus menguras isi dompetnya yang memang tipis itu. Mengurasnya sampai habis. Dan bahkan walaupun Ikin sudah berhemat dengan membawa bekal makanan dari rumah, rela berjalan kaki ke pabriknya yang lumayan jauh sampai memberi uang jajan yang begitu kecil kepada Ipin, anak semata wayangnya, ternyata tak juga membuat dia bisa merasa tenang. hutang tetap saja berjalan setiap bulan.

Kini, Ikin makin frustasi.

Rokok kretek yang sedari tadi dihisapnya kini sudah menjadi terlalu pendek. Dan walaupun sudah sedari tadi pula rokok itu ia hisap, kegelisahan masih membayangi. kegelisahan yang tak kunjung pergi. Rokok tersebut tidaklah sanggup membuat ia merasa tenang. Hal itu seolah hanya ia lakukan untuk memberi alasan kerja bagi paru-parunya.

Dengan kecewa, segera ia matikan rokok dalam asbak. Lalu, diminumlah kembali kopi yang sudah dingin. Tapi dengan tetap dalam diam.

Kapitalisme telah begitu giat menghisap kesejahteraan rakyat. Kaum miskin seperti Ikin dan Ipinlah yang telah menjadi korban.

Perasaan marah yang sedari tadi membelenggu otaknya kini segera saja berubah menjadi kekecewaan pada kehidupan. Sebuah kekecewaan yang telah mengantar Ipin pada sebuah keputus-asaan.

Ekonomi telah begitu menghimpit, sekarang ia kembali harus berhutang. Tapi pada siapa? sudah terlalau banyak teman, kenalan dan saudara yang ia hutangi. Dan bahkan, di kantor pun ia punya masih punya hutang yang harus dibayarkan dengan cara memotong gajinya yang tidak besar.

Gajinya yang kecil pun menjadi semakin kecil dan kini jadi semakin tak bisa memenuhi kebutuhannya . Membuat Ikin makin frustrasi. Ikin telah capai. Ia capai berpikir, hingga akhirnya dia berdiri.

Masuk ke dalam rumah, lalu langsung masuk kedalam kamarnya. Di lewatinya Iyem dengan tanpa bicara. Hanya pandangan matanyalah, yang redup dengan keputus-asaan, hanya matanyalah yang seolah menyapa.

Pintu kamar ia kunci.

Kemudian ia raihnya sebuah botol hijau dari sudut ruangan sumpek itu. Sebuah botol pembasmi serangga. Dipandanginya sesaat. Lalu dengan segera, dilihatnya kebebasan menyapa ketika cairan itu di teguk dan sampai kerongkongannya. Ya, itu adalah kebebasan absolut dari sebuah keputus-asaan. Sesuatu yang membebaskan dirinya dari keputus-asaan. Dari perasaan tertekan. Kini ia tak mau lagi menjadi bagian dari orang-orang yang kalah. Tak sanggup menjadi seseorang yang kalah dalam pergulatan hidup dan terdapar pada kesenjangan.

Dia diam. Dan dalam diam, kini ia temukan kebebasan.

    • Cengkunek
    • March 4th, 2009

    ye, putus asa
    kebebasan dari kekalahan relatif menuju kekalahan absolut

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: