Dieng, Sebuah Mutiara yang Terpendam

junghuhn_plateau_dieng

Penasaran, ya perasaan itulah yang membuncah di hati saya, ketika tiba waktu untuk saya berangkat ke kawasan wisata dataran tinggi Dieng. Saya memang sedang beruntung. Seperti apakah Dieng? Seindah apakah kawasan wisata tersebut? Seberapa istimewanyakah tempat itu? Adalah beberapa pertanyaan di hati saya yang sudah tak sabar lagi memperoleh jawaban.

Hingga akhirnya kami tiba di penginapan di daerah Wonosobo pukul 5 pagi keesokan harinya, tepat ketika sang mentari bangun dari tidurnya. Dengan bergegas saya turun dari bus. Udara dingin yang menusuk ternyata tidaklah dapat menghalangi langkah saya untuk menikmati momen ini

Saat itu, sang raja tata surya dengan anggun muncul dan mengintip dari balik perkasanya Gunung Sindoro yang berdiri angkuh dengan ditemani Gunung Sumbing disampingnya. Suasana tiba-tiba saja menjadi begitu hening dan mistik seolah ketika sang raja keluar dari singasana malamnya kita haruslah bersikap khidmat.

Dan seperti tak mau membuang waktu, usai sarapan kami langsung bergegas ke inti perjalanan. Ya, bergerak langsung ke kawasan wisata dataran tinggi Dieng. Sebuah kawasan dataran tinggi yang memiliki ketinggian sekitar 2.090 m dari permukaan laut. Sebuah hal yang membuat kawasan ini dinobatkan menjadi kawasan dataran tinggi yang tertinggi di pulau Jawa.

Jalan yang sempit dan curam memang sedikit menakutkan namun tidak cukup kuat untuk menyurutkan nyali kami pergi kesana. Apalagi bila melihat panorama yang disajikan, kebun kentang, kol, daun bawang, terbentang luas hadir menemani perjalanan kami.

Dieng

Nama Dieng berasal dari bahasa Sunda Kuna “Di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna (Dewa). Dan dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Nama Dieng berasal dari Bahasa Sunda karena diperkirakan sebelum tahun 600 daerah itu didiami oleh Suku Sunda dan bukan Suku Jawa. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Dieng sebenarnya berasal dari kata “Dih Yang”, yang dalam bahasa Sansekerta berarti kahyangan. Dan ada juga yang bilang Dieng itu berasal dari kata Edi dan Eng, artinya cantik tidak ada yang menandingi.

Hembusan angin yang begitu sejuk langsung menerpa wajah saya ketika Untuk menginjakan kaki pertama kali disana. Suasana tenang yang begitu mendominasi disamping, sekali lagi, keindahan alamnya yang begitu memanjakan mata, membuat saya begitu menikmatinya.Indah, eksotis, ya kata-kata itulah yang pantas mewakili perasaan saya saat itu. Dikejauhan mata memandang, candi Arjuna sudah siap menyambut kedatangan kami. Tumpukan batu itu begitu perkasa berdiri di tengah warna hijau yang mendominasi panorama.

Barangkali itulah suasana yang pertama kali saya tangkap ketika untuk pertama kalinya menjejakkan kaki disana. Selain candi Arjuna, ternyata masih ada 4 candi lagi yang tersebar di kawasan wisata yang terletak di 2 kabupaten yakni Wonosobo, dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Uniknya lagi, 5 candi yang ada disana, dinamai sesuai dengan tokoh pewayangan yang ada dalam cerita Pandawa 5, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Punta dewa, Candi Sembadra.

Selesai membayar retribusi, dimulailah petualangan saya. Bersih dan tertata rapi itulah kesan yang tertangkap panca indera saya ketika masuk ke pelataran candi.

Kawasan ini pertama kali ditemukan oleh Hase Cornelius dari dalam air pada tahun 1814. Ya, benar-benar di dalam air, karena kawasan ini memang dulu sepenuhnya terendam air hingga membentuk sebuah danau besar, dan dengan kepedulian dari Hase Cornelius ini, maka disedotlah air di danau tersebut. Sebuah usaha yang besar ini begitu gigih ia perjuangkan sebelum akhirnya diteruskan oleh Van Vingkersen pada tahun 1856.

Perjuangan itu tak sia-sia, karena pada tahun 1916-1920, kawasan Dataran Tinggi Dieng ini bahkan telah masuk dalam catalog tempat wisata yang wajib dikunjungi bila orang-orang Eropa dating ke Hindia Belanda. Sebuah prestasi tersendiri dijamannya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, candi-candi di kawasan ini ternyata adalah yang tertua, bukan saja di Indonesia, melainkan di dunia. Bahkan candi-candi di India pun tak ada yang menyamai umur candi-candi di kawasan Dataran Tinggi Dieng ini. Eksotisme candi yang ada di Dieng pun tidak kalahlah dengan candi-candi di Jawa Tengah lain seperti Borobudur, Prambanan, Sewu, dll. Sebuah pengetahuan yang kurang tersosialisasi.

Ditengah menikmati suasana di candi Bima, mata saya tertuju pada sebuah gapura yang bertuliskan kawasan Sikidang. Seperti apakah rupanya? Segera saja saya masuk ke kawasan kawah yang terakhir meletus pada tahun 1970. bersih, itulah yang kembali saya dapat. Pemda dan pengelolanya seperti benar-benar menjaga dan memeliharanya.

Telaga warna adalah tempat pemberhentian terakhir saya. Sebuah telaga yang dapat berubah warna tergantung dari waktu dan tempat kita melihatnya. Hal ini dimungkinkan terjadi dimana warna-warna itu timbul dari ganggang-ganggang yang hidup dari nutrisi belerang yang ada dalam perut bumi.

Namun ada cerita rakyat tersendiri, menyangkut warna di telaga ini. Rumor yang telah lama beredar turun temurun di masyarakat mengatakan bahwa warna-warna itu timbul akibat banyaknya permata-permata yang berserakan di dasar telaga, dan menurut rumor pula, ada permata-permata yang pernah di ambil Jepang di kawasan telaga warna ini.

Dataran tinggi Dieng ini dulunya adalah sebuah gunung berapi. Namun, peristiwa-peristiwa geologi seperti gunung meletus dll, alih-alih membuat gunung itu bertambah tinggi seperti yang biasa terjadi di gunung-gunung lain. Justru sebaliknya, membuat gunung tersebut amblas, hingga membentuk sebuah dataran baru yang akhirnya dinamakan Dataran Tinggi Dieng.

Yang Khas

Tak terasa sudah dua jam saya berkeliling. Kombinasi yang unik dan juga indah antara candi, kawah, dan telaga di dalam kawasan tersebut membuat saya betah berlama-lama.

Ketika akhirnya saya dapat beristirahat di sebuah warung, saya beruntung karena dapat memperoleh kesempatan untuk mencicipi sebuah minuman khas Dieng, yaitu Purwaceng (Pimpinella Pruatjan) yang aslinya berasal dari tumbuhan herbal (GenusApiaceae). Minuman yang berasal dari kata “Purwa” yang artinya “awal” dan “Ceng” yang berartikan “gairah” terkenal karena khasiatya yang dapat meningkatkan stamina bagi si peminum ini, Biasanya diolah dalam berbagai bentuk seperti bubuk purwaceng, kopi purwaceng dan susu purwaceng., walau terasa agak pahit, minuman yang berasal dari sejenis ginseng khas Dieng ini tetaplah jadi primadona.

Selain minuman, terdapat juga makanan yang dinamakan Mi Ongklok (bakmi ongklok). Sebuah makanan khas Kabupaten Wonosobo berupa mi rebus yang dibuat dengan racikan khusus menggunakan kol, daun kucai, dan kuah yang disebut loh, kuah ini sangat kental dan berasa manis pedas mirip kuah sate padang. Paling pas disajikan hangat bersama sate sapi dan tempe kemul. Beberapa pedagang mi ongklok yang terkenal adalah mi ongklok Longkrang, mi ongklok Pak Muhamad (depan Rumah Makan Wana Boga). Tampaknya Purwaceng serta Mi Ongklok patut untuk anda masukkan ke dalam daftar wisata kuliner anda.

Ternyata “keberuntungan” saya tidaklah berhenti sampai disitu, karena saya beruntung dapat bertemu seorang anak berambut gembel/gimbal. Rambut gembel itulah “fenomena lain” di kawasan dataran tinggi Dieng. Sebuah hal yang entah kenapa sebabnya itu, hanya bisa “disembuhkan” dengan ritual “slametan” untuk memotong rambut anak tersebut seraya si anak boleh minta apa saja dan dari sapa saja, dan anehnya, bila keinginan si anak tidak terpenuhi, niscaya rambutny akan tumbuh kembali seperti itu (gembel).

Ya, begitulah, Harmoni yang begitu menyegarkan intuisi dari sebuah kawasan eksotis dimana keindahan alam, keunikan budaya, serta kedalaman sejarahnya berpadu. Dieng adalah sebuah kawasan yang sangat patut untuk di lestarikan dan diperkenalkan kepada khalayak. Agar dapat kita jadikan sebuah kebanggaan tersendiri dan menjadikannya salah satu ciri khas negeri kita tercinta. Karena Dieng adalah sebuah harmoni indah di bumi pertiwi yang pantas untuk kita singgahi.

    • nanang
    • March 5th, 2009

    oleh-olehnya mana lo ……..????????

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: